Di Reo Kami Mencari Jalan Memulihkan Kedaulatan Berpikir

Oleh Febry Nagut, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo

Di tengah limpahan informasi, kami sampai pada kesadaran yang sama: tanpa literasi kritis, siswa berisiko menjadi penonton pasif dalam hidupnya sendiri. Teknologi yang seharusnya membebaskan justru dapat membentuk ketergantungan.

Dalam kelompok-kelompok kecil, kami diajak melangkah lebih jauh. Tidak hanya mengeluhkan keadaan, tetapi membayangkan kemungkinan. Dari sana lahir gagasan-gagasan sederhana namun bermakna: forum diskusi isu lokal Dialektika Reo, komunitas Arsitek Inkuiri berbasis lesson study, hingga jurnal refleksi pembelajaran sebagai ruang berpikir bagi guru.

“Sekolah perlu menjadi ruang reflektif,” kata Dr. Manto. “Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi perancang pengalaman belajar.”

Harapan itu juga disampaikan kepala sekolah kami-RD. Sunday. Ia menegaskan bahwa kegelisahan yang dibicarakan dalam MGMP ini tidak boleh berhenti sebagai wacana. Ia harus hidup di ruang kelas, dalam cara kami mengajar dan mendampingi siswa.

“Kami tidak hanya ingin mengejar nilai,” katanya. “Kami ingin siswa memiliki kedaulatan berpikir.”

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More