Di Reo Kami Mencari Jalan Memulihkan Kedaulatan Berpikir

Oleh Febry Nagut, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo

Data PISA 2022 dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 mempertegas kenyataan itu. Dengan skor 33,07, NTT berada di posisi terakhir secara nasional. Sebagai guru di daerah ini, saya tidak bisa sekadar menyalahkan murid. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan pembelajaran berbasis hafalan terasa semakin kehilangan relevansi.

Dr. Manto menawarkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (deep learning). Belajar, katanya, harus bersifat mindful, meaningful, dan joyful. Proses belajar tidak boleh berhenti pada penyelesaian silabus, tetapi perlu memberi ruang bagi kesadaran, makna, dan kegembiraan. Saya menangkap ini sebagai ajakan untuk kembali jujur pada hakikat mengajar.

Ia juga memperkenalkan Taksonomi Bertanya. Sebuah gagasan sederhana, tetapi terasa menampar: ruang kelas perlu dikembalikan sebagai ruang bertanya. Pertanyaan bukan tanda ketidaktahuan, melainkan pintu menuju pemahaman yang lebih manusiawi.

Diskusi pun mengalir panjang. Kami, para guru, berbagi cerita tentang kebijakan pendidikan nasional yang sering terasa jauh dari konteks lokal, tentang keterbatasan sarana, dan tentang kebingungan menghadapi kecerdasan buatan yang kian hadir dalam kehidupan siswa.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More