Di Reo Kami Mencari Jalan Memulihkan Kedaulatan Berpikir
Oleh Febry Nagut, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo
“Pendidikan bukan soal seberapa cepat kita memperoleh informasi,” katanya, “tetapi sejauh mana kita mampu memaknainya secara etis dan mendalam.”

Dari titik itu, diskusi bergerak ke lapisan yang lebih dalam. Dr. Marianus Mantovany Tapung, S.Fil., M.Pd., dosen Universitas Katolik St. Paulus Ruteng, memulai sesinya dengan sebuah pertanyaan yang terasa seperti ditujukan langsung kepada kami: apakah krisis literasi di sekolahsungguh hanya soal metode mengajar?
Ia mengutip Rapor Pendidikan 2025. Capaian literasi SMAS St. Gregorius Reo berada pada angka 64,44 persen dan mengalami penurunan. Lebih dari sepertiga siswa belum mencapai kompetensi minimum. Angka-angka itu membuat ruang aula menjadi sunyi. Namun bagi Dr. Manto, data tersebut bukan sekadar statistik.
Krisis literasi, menurutnya, adalah cermin dari persoalan yang lebih luas: literasi guru yang belum sepenuhnya kokoh, sekolah yang kian terjebak pada logika administratif, serta ketimpangan infrastruktur pendidikan yang membuat wilayah seperti Nusa Tenggara Timur terus berada di lapis terbawah secara nasional.