Di Reo Kami Mencari Jalan Memulihkan Kedaulatan Berpikir
Oleh Febry Nagut, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo
Hari ketiga MGMP secara khusus diarahkan pada refleksi literasi kritis. Bukan literasi sebagai keterampilan teknis membaca dan menulis, melainkan sebagai kemampuan membaca dunia, memahami konteks, dan mengambil sikap. Literasi sebagai laku berpikir. Bagi saya, di titik inilah MGMP ini terasa sungguh penting.
Kegiatan dibuka oleh RD. Agustinus Sunday Cakputra, S.Fil., M.Th. Ia tidak memulai dengan paparan kurikulum atau target capaian belajar. Ia berbicara tentang manusia-tentang bagaimana teknologi, yang pada awalnya menjanjikan kemudahan, perlahan membentuk cara kita memandang realitas.
Ia menyebut fenomena brain rot, istilah yang menggambarkan penurunan daya pikir akibat paparan konten digital yang dangkal dan berulang. Saya merasa istilah itu tidak asing. Ia hadir di kelas-kelas kami, dalam jawaban-jawaban cepat yang minim refleksi, dalam kebiasaan menyalin tanpa memahami. Dalam situasi seperti ini, saya menyadari bahwa pendidikan tidak cukup hanya menyediakan akses informasi. Yang jauh lebih genting adalah kemampuan memberi makna.