Di Bawah Sinar Fajar: Pelajaran Venezuela untuk Indonesia

Oleh Pascual Semaun, Misionaris Serikat Sabda Allah, tinggal dan bekerja di Paraguay, Amerika Latin

Indonesia masih memiliki kesempatan menjaga jarak moral antara kekuasaan dan institusi,
memperkuat kontrol sipil, dan merawat budaya kritik sebagai bentuk cinta pada republik.
Reformasi, supremasi sipil, dan profesionalisme militer bukan kelemahan, melainkan
benteng terkuat negara.

Memandang sejarah berarti menatap bukan hanya keberhasilan, tetapi juga kegagalan—
momen ketika institusi memilih diam, moral kepemimpinan tergelincir, dan rakyat menjadi
saksi atau korban kebijakan yang kehilangan akal nurani. Bercermin pada pengalaman bangsa
lain memungkinkan kita memahami bagaimana kombinasi kekuasaan tanpa kontrol, pasivitas
institusional, dan kolusi internal dapat meruntuhkan kedaulatan dari dalam.

Belajar dari trauma politis dan harapan menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan
masa lalu, melainkan laboratorium moral dan politik. Trauma politis lahir dari kekerasan,
penyalahgunaan kekuasaan, dan kegagalan negara melindungi martabat warganya. Ia
menjadi pengingat akan risiko dari kesalahan yang terus diulang. Namun harapan
menegaskan kapasitas bangsa untuk melakukan koreksi, membenahi institusi, dan
membangun kembali kepercayaan kolektif. Tanpa refleksi kritis, nurani publik tidak akan
pulih, dan sejarah hanya akan mengulang siklus kehancuran etis dan politis yang sama.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More