Di Bawah Sinar Fajar: Pelajaran Venezuela untuk Indonesia

Oleh Pascual Semaun, Misionaris Serikat Sabda Allah, tinggal dan bekerja di Paraguay, Amerika Latin

Kasus Venezuela mengajarkan satu pelajaran pahit: ketika institusi berhenti berpikir secara
moral, negara mulai mati perlahan. Negara hidup bukan hanya dari hukum atau senjata,
tetapi dari keberanian etis untuk membela keadilan. Sejarah mencatat bukan hanya tindakan
aktor utama, tetapi juga apa yang dibiarkan terjadi oleh mereka yang memilih diam, aman
dalam senyap.

Penangkapan presiden Nicolas Maduro memicu perdebatan global: sebagian menilai sebagai
pelanggaran kedaulatan, sebagian sebagai pembebasan dari tirani. Paradoksnya jelas:
intervensi eksternal menjadi mungkin karena kerapuhan internal yang dibiarkan terlalu lama.
Kedaulatan tidak runtuh saat pasukan asing masuk, melainkan ketika institusi negara
berhenti membelanya dari dalam.

Di sinilah Indonesia perlu bercermin. Venezuela bukan kisah jauh yang tidak relevan; ia
peringatan tentang bahaya ketika militer terlalu dekat dengan kekuasaan politik, kritik
dianggap ancaman, dan loyalitas personal menggantikan supremasi hukum. Demokrasi yang
sehat bukan hanya soal struktur kelembagaan, tetapi budaya moral yang menopang institusi
negara.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More