Di Bawah Sinar Fajar: Pelajaran Venezuela untuk Indonesia

Oleh Pascual Semaun, Misionaris Serikat Sabda Allah, tinggal dan bekerja di Paraguay, Amerika Latin

Dalam politik, diam bukan netralitas. Diam adalah persetujuan yang paling aman—dan
sekaligus paling berbahaya. Ketika institusi yang seharusnya melindungi konstitusi dan rakyat
memilih loyalitas pada rezim atau kepentingan pribadi, negara tidak lagi berfungsi demi
kepentingan kolektif, melainkan demi bertahannya rezim. Kedaulatan moral pun dilucuti
perlahan.

Sistem yang awalnya dibentuk untuk melindungi rakyat berubah menjadi pilar kekuasaan
politik dan penetrasi kekuatan informal. Paramiliter dan milisi nasional langsung berada di
bawah kendali presiden, mengaburkan batas antara pertahanan negara dan penindasan
internal. Hasilnya adalah dua negara dalam satu tubuh: satu konstitusional di atas kertas, dan
satu lagi hidup dari kolusi, ketakutan, dan kekuasaan yang menyimpang.

Pengkhianatan terbesar bukan hanya milik elite, tetapi juga mereka yang berada di tengah:
komando menengah dan aparat yang setiap hari memilih diam. Dalam sejarah politik, tidak
bertindak pun adalah sebuah tindakan yang membawa konsekuensi moral.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More