Di Bawah Sinar Fajar: Pelajaran Venezuela untuk Indonesia

Oleh Pascual Semaun, Misionaris Serikat Sabda Allah, tinggal dan bekerja di Paraguay, Amerika Latin

‘’Di bawah sinar fajar kita berdiri, menatap masa lalu yang bersemi. Jejak langkah bangsa
tercatat di hati, dan ada tanya dalam tiap sunyi.’’ (passem).

Bait puitis ini bukan sekadar kata indah; ia membuka ruang refleksi, saat bangsa menoleh ke belakang, bertanya mengapa
sejarah tertentu terjadi.

Venezuela hari ini berdiri di bawah fajar yang pahit. Bukan karena kekurangan sumber daya
atau institusi, tetapi karena pembiaran moral dan keheningan yang membisu dari institusi itu
sendiri. Penangkapan presiden pada awal Januari 2026 menjadi titik balik dramatis—bukan
sekadar operasi hukum atau intrik geopolitik, tetapi puncak dari runtuhnya legitimasi
internal: krisis moral governance yang lahir dari diamnya institusi.

Negara tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah perlahan ketika institusi berhenti
berpikir secara etis, berhenti menegakkan kebenaran, dan memilih aman dalam senyap.
Keheningan semacam ini lebih berbahaya daripada konflik terbuka. Di balik seragam rapi dan
pangkat berkilau, bersemayam diam yang mematikan. Angkatan bersenjata memahami
penetrasi kepentingan asing, jaringan kriminal yang tumbuh, krisis kemanusiaan yang parah,
dan degradasi demokrasi itu sendiri. Namun mereka memilih diam.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More