Biasa-Biasa, eh Ternyata Luar Biasa; untuk Sahabat Ipran, Fransiskus Borgias
Oleh Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, pernah bekerja di Deutsche Welle di Koeln dan Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, sekarang tinggal di Jakarta.
Apalagi saya, senang betul. Dalam hati, saya nyeletuk: ” Eeeeee mereka tidak tahu wakil keluarga ini dan Frans Borgias sama-sama hasil racikan Seminari Pius XII Kisol, dapur terkuat humaniora senusantara, hahahahaha.
Ipran itu tahunya banyak. Saya tahu itu. Pernah di Amsterdam kami bolak balik ke toko buku loak cari buku-buku filsafat kritis Lingkaran Frankfurt. Buku-buku Max Horkheimer, Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Juergen Habermas, semuanya dalam bahasa Jerman, dan kami borong semua. Mumpung murah. Dan saya tahu, Frans lumat habis semua buku-buku itu.
Saya heran, sampai-sampai waktu antar dia ke Nijmegen, saya tanya, Ipran, kau ini studi filsafat atau teologi. Dia ngakak sejadi-jadinya, dan bilang: campur sari ta amang (=om).
Teori kritis selalu menempatkan manusia pada posisi kritik apa saja yang membelenggu kebebasan, kritik ideologi, kebudayaan, politik, agama dan sebagainya. Semua ini mempromosikan revolusi sosial tanpa kekerasan agar kekuatan yang menindas itu disingkirkan.
Nah, itulah Fransiskus Borgias yang Emad Lalong sebut biasa-biasa saja, itu. Adem, tanpa riak. Biasa-biasa, eh ternyata luar biasa!