Biasa-Biasa, eh Ternyata Luar Biasa; untuk Sahabat Ipran, Fransiskus Borgias

Oleh Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, pernah bekerja di Deutsche Welle di Koeln dan Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, sekarang tinggal di Jakarta.

Begini penjelasan saya. Saya pikir mereka kaget karena mendapatkan istilah ‘biasa-biasa saja’ sebagai rangkuman jitu untuk kehebatan dan kebesaran seorang Fransiskus Borgias.

Kenapa? Filsafat selalu berurusan dengan pertanyaan mengapa dan mempertanyakan, mencari sebab pertama yang tidak disebabkan lagi. Teologi bekerja dengan cara yang sama melalui prinsip: credo ut intelligam, intelligo ut credam, yang sadurannya berbunyi: Saya percaya supaya lebih banyak mengerti, saya memahami supaya semakin lebih percaya.

Itulah pekerjaan mereka bertahun-tahun. Itulah juga pekerjaannya Fransiskus Borgias. Semua pekerjaan ini dilakukan dalam sunyi, di bawah permukaan hiruk pikuk dunia. Sementara perilaku yang tampak di permukaan ialah biasa-biasa saja.

Biasa-lah. Orang yang banyak tahu tidak suka gara-gara. Danau yang dalam tanpa buaya biasanya tanpa riak dan tanpa gelombang brisik. Maka bagi teolog dan filsuf, menjadi biasa-biasa adalah sebuah keutamaan yang lahir dari sebuah kedalaman.

Saya perhatikan mereka mengangguk-angguk kepala selama Emad Lalong. Pikir saya, pasti mereka surprise bahwa dari mulut seorang awam keluar sebuah frase yang pas dan kena.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More