Biasa-Biasa, eh Ternyata Luar Biasa; untuk Sahabat Ipran, Fransiskus Borgias
Oleh Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, pernah bekerja di Deutsche Welle di Koeln dan Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, sekarang tinggal di Jakarta.
Maka saya sangat yakin Ipran di Unpar bukan hanya mentransfer ilmu. Analoginya, mungkin tidak terlalu tepat, Ipran mengajar bukan lagi 1+1 melainkan mengapa harus jujur saat berhitung. Sekolah, apa pun tingkatannya, tidak lagi mengajar hafalan tetapi menguji dan mempertanyakan kebijakan dan kebijaksanaan agar dapat mengambil hikmahnya demi tidak terulangi tragedi-tragedi kemanusiaan dan kebodohan-kebodohan jenis baru lainnya. Maka, dia mengajar bukan untuk menjadikan orang terkenal dan viral tetapi membuat orang waras.
Itulah alasannya mengapa dia telaten menulis dan menulis, entah ilmiah, sastra dan apa saja. Menulisnya pun, indah dan enak. Agar pembaca menjadi waras. Bukan untuk supaya dia terkenal. Tidak, tidak.
Ya, memang itulah Ipran, itulah hidupnya. Itulah keindahan Ipran. Sadar bahwa diri dan segala sesuatu yang dia punyai di dunia ini adalah pem-beri-an, maka hidup Ipran memang sederhana: memberi dan mengasihi melalui jalan mengajar dan menulis.
Kedua: Emad Lalong (= Don Bosco Salamun): Biasa-biasa saja!