Biasa-Biasa, eh Ternyata Luar Biasa; untuk Sahabat Ipran, Fransiskus Borgias
Oleh Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, pernah bekerja di Deutsche Welle di Koeln dan Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, sekarang tinggal di Jakarta.
Semuanya ini menegaskan bahwa kepintaran atau kecerdasan (intelligence) itu menjadi sangat murah sekarang ini. Mesin AI memilikinya dalam jumlah tak terbatas. Ijazah dan gelar bisa dipesan.
Dua kebodohan ini menjebakkan manusia dalam suatu peradaban baru yang tanpa disadari menggilas habis-habisan kita dan anak cucu kita. Yaitu peradaban yang menyangka dunia adalah surga dan bahwa dengan merebut dunia berarti sekaligus merebut surga.
Maka satu-satunya yang mahal ialah kesadaran (=consciousness) dan kebijaksanaan (wisdom). Dua hal ini lahir dari knowledge base (endapan pengetahuan) dan deep learning, baca buku, bukan baca medsos dan whatschap berjam-jam bahkan seharian. Hanya dua hal ini yang mampu melibas kebodohan dan ketololan zaman sekarang. Dan dua senjata pamungkas ini sudah dipunyai Ipran.
Mengapa saya begitu yakin. Nanti akan saya ceritakan di kesempatan lain. Sekedar petunjuk saja, selama di Belanda, saya tahu Ipran melumat habis buku-buku filsafat lingkaran Frankfurt tentang Teori Kritis.