Biasa-Biasa, eh Ternyata Luar Biasa; untuk Sahabat Ipran, Fransiskus Borgias

Oleh Gerard N. Bibang, alumnus IFTK Ledalero, pernah bekerja di Deutsche Welle di Koeln dan Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, sekarang tinggal di Jakarta.

Semalam (Selasa malam, 30/12) saya mengikuti secara livestreaming misa requiemnya dari Bumi II, Bandung. Rasa campur aduk bergemuruh. Terharu, sedih, diselang-selingi mata sembab, dan bahagia. Apa yang saya kenal tentang Ipran, begitu panggilan keluarga dan masa kecil kami, semuanya terkonfirmasi semalam.

Umat membludak. Imam konselebrantes berjumlah belasan. Ini kematian seorang awam lho ya, bukan seorang imam. Belum lagi lantunan para frater dengan nyanyian merdu bernuansa himmlisch (=surgawi), liturgi yang memukau, semuanya ini membuat saya bahagia dan dalam hati membathin: Oe Ipran, bo ghau ge ta, eta surga ga (= Enak sudah kau e Ipran, sdh masuk surga).

Saya mengambil dua hal saja untuk kesempatan ini. Pertama, khotbah Romo Dekan Fakultas Filsafat Unpar, yang sekaligus pemimpin misa konselebrasi. Kedua, kata sambutan Emad Lalong (=Don Bosco Salamun) wakil keluarga, yang menurut saya, ini merupakan klimaks dan gong sekaligus sebagai resume yang bersifat ‘anggom agu rangko’ (= luas dan mendalam/ekstensif dan intensif) baik tentang diri Ipran maupun tentang peristiwa semalam.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More