Bersabar, Semua Ujian Akan Berlalu

Oleh: Fransiskus Ndejeng

Sabar, adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Diperluas;  sabar, merupakan suatu  kemampuan untuk  mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya (Wikipedia, 2021). Ujian hidup (Dream – Hidup, 2021); Hidup ini seperti roda yang selalu berputar. Kadang di atas kadang juga di bawah. Cobaan pun datang silih berganti menghampirinya. Sebab, namanya manusia pasti tidak terlepas dari cobaan dan ujian kehidupan. Pada hakekatnya manusia tidak diuji di luar batas.

Mengapa?

Sesungguhnya hidup itu lahir, tumbuh  besar, dewasa bertanggungjawab dan mati;  merupakan tahapan yang secara alamiah dilalui tahap demi tahap. Ketika lahir dari rahim ibu;  merasa gembira di dalam rumah tangga (keluarga). Karena ada makhluk baru yang menambah kegembiraan dan harapan orangtua. Selaku pewaris keturunan untuk generasi berikutnya.

Ketika tumbuh kembang dari hari kehari, merasa ada kebanggaan tersendiri bagi orangtua, apalagi kalau tumbuh dan kembang penuh vitalitas dan sehat jasmani dan rohaninya. Ketika merasa sakit, tentu ada beban jiwa  raga dan psikologis untuk merawat buah hati dalam hidup. Ketika mati, ini sebuah fenomena alamiah yang wajib dilalui dalam hidup setiap insan, manakala ditinggal pergi oleh orang-orang yang disayanginya.  Jadi, kesimpulannya, setiap ujian hidup selalu ada makna positip dan negatifnya. Positipnya, untuk meningkatkan motivasi diri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kakekat hidup itu sendiri. Negatip, hidup itu harus dirasakan demi untuk bisa melihat kedalam diri, bahwa manusia selalu ada batasnya. Tidak sempurna. Yang sempurna hanya milik yang di atas sana saja. Bukan milik manusia. Bukan untuk saling menyalahkan orang lain. Atau saling menyalahkan satu sama lain. Misalnya; disihir orang, disantet, dikena guna-guna, dan lain sebagainya. Orang Manggarai menyebutnya”  Rasung Lata”(Red.), artinya,  diberi  obat untuk sakit bahkan mati). Ini bentuk pikiran negatip yang selalu terlintas dalam ingatan dan percakapan di  komunitas masyarakat yang tradisional;  tidak rasional. Seperti kebanyakan terjadi di masyarakat Asia (Indonesia), suku bangsa Afrika dan bangsa Indian, yang tergolong masih dianggap primitif.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More