
Dalam kehidupan ini, manusia senantiasa ditantang, diganggu, dan diuji dalam aktualisasi diri untuk hidup. Semua makhluk hidup di bawah kolong langit ini, senantiasa diuji untuk mempertahankan dan melangsungkan hidupnya. Apalagi manusia, senantiasa diuji untuk mempertahankan hidupnya. Diuji untuk dicemoohi, dimarahi, dicaci maki, dicercah, diolok, dirundung, dirudapaksa, dan sebagainya.
Di dalam hidup ini, senantiasa diuji dalam keadaan fisik dan psikis yang sering terganggu. Seperti mengalami sakit karena berbagai alasannya. Mulai dari sakit hati, sakit karena gangguan fisik yang disebabkan oleh berbagai jenis dan sumber penyakit. Terasa menyebalkan hati dan pikiran. Jiwa ikut tergoncang. Berbeda halnya, apabila ada gangguan fisik karena faktor lahiriah. Misalnya, cacat fisik dan cacat mental.
Akhir-akhir ini hampir genap dua tahun, seluruh insan di planet kosmos ini, mengalami gangguan yang menyakitkan dan dasyat; adanya pandemi virus Corona yang merenggut jutaan nyawa umat manusia. Belum lagi ditambah dengan beberapa jutaan lainnya yang sedang dirawat di rumah sakit, fasilitas kesehatan. Tidak terkecuali para dokter dan paramedis yang mengurus dan memfasilitasi kesehatan fisik dan jiwa korban. Tidak pandang bulu. Semua terpapar dan terinveksi, dan mengalami sakit. Justru mereka yang paling riskan untuk diserang oleh virus Corona ini, dan virus varian baru, Omicron.