Berjalan Bersama dalam Persekutuan Sinergis, Mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider untuk Keselamatan Dunia

Hasil Sidang Pastoral Post-Natal Keuskupan Labuan Bajo

21. Sinergi adalah buah kedewasaan rohani. Sinergi bukan sekadar kerja sama teknis. Sinergi adalah buah dari kedewasaan iman. Sinergi hanya mungkin apabil ego pribadi dikalahkan oleh kepentingan perutusan; kuasa diubah menjadi pelayanan; dan jabatan dipahami sebagai amanah bukan keistimewaan (bdk. Mrk. 10:45). Sinergi menuntut keberanian untuk berkata “Saya tidak harus paling menonjol, asal Gereja bertumbuh”. Sinergi juga menuntut kerendahan hati untuk mengakui “Saya membutuhkan yang lain” (bdk. EG 27). Sinergi bukan soal siapa yang mengerjakan lebih banyak, melainkan soal ke mana kita berjalan bersama.

22. Persekutuan sinergis tidak dibangun di atas romantisme. Ia dibangun di atas kejujuran Rohani. Kita perlu mengakui bahwa pelayanan kita kadang berjalan sendiri-sendiri; koordinasi belum selalu menjadi kolaborasi; dan semangat melayani bisa melelahkan bila tidak ditopang relasi yang sehat. Gereja kita tidak kekurangan kegiatan, tetapi kadang kita kekurangan keterhubungan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap luka-luka dalam tubuh Gereja: relasi yang renggang, kekecewaan yang disimpan diam-diam, dan konflik yang tidak pernah sungguh disembuhkan. Gereja yang bersinergi adalah Gereja yang berani menyembuhkan, bukan menutupi. Gereja yang bersinergi juga tidak berhenti di dalam, tetapi mengalir ke luar. “Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil” (Mrk. 16:15).

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More