Berjalan Bersama dalam Persekutuan Sinergis, Mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider untuk Keselamatan Dunia
Hasil Sidang Pastoral Post-Natal Keuskupan Labuan Bajo
13. Dalam hal komitmen ekologis berkelanjutan, inisiasi “Gereja Sahabat Alam” dan budidaya pangan lokal masih berjalan parsial, belum terintegrasi dalam gerakan kolaboratif sistematis. Diperlukan transformasi menuju ekologi integral yang konkret dan berkelanjutan. Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) umat terkendala keterbatasan modal; urgensi mengembangkan sumber pendanaan mandiri berkelanjutan yang mendukung ekonomi hijau dan kemandirian pangan berbasis kearifan lokal (bdk. LS 160).
14. Dalam pewartaan dan pendidikan, transisi dari oral ke digital visual menciptakan krisis literasi baru—peluang akses informasi sekaligus tantangan evaluasi konten kritis. Generasi muda perlu dibentuk sebagai agen evangelisasi kritis dan transformatif. Katekese yang masih terbatas pada persiapan sakramen harus berkembang mencakup pembinaan iman keluarga menyeluruh (bdk. GE 09).
IV. DISCERNMENT TEOLOGIS-PASTORAL
A. Akar Spiritualitas: “Pokok Anggur yang Berbuah”
15. Gereja hidup berkat tindakan Tuhan, bukan prestasi manusia. Pelayanan harus berakar pada “ada bersama Yesus” (kontemplasi). Sebab Gereja tidak pernah dibangun oleh kesibukan semata, tetapi oleh ketaatan pada Roh Kudus. Dalam terang Yoh. 15:1-8 tentang Pokok Anggur, Gereja Keuskupan Labuan Bajo dipanggil untuk pertobatan pastoral—dari aktivisme menuju pelayanan yang berbuah karena melekat pada Sang Pokok. Semua program pastoral harus lahir dari dan kembali kepada relasi intim dengan Kristus.