Berjalan Bersama dalam Persekutuan Sinergis, Mewujudkan Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider untuk Keselamatan Dunia

Hasil Sidang Pastoral Post-Natal Keuskupan Labuan Bajo

7. Di tengah tantangan ini, ditemukan paradoks pastoral fundamental: kehidupan liturgi menunjukkan partisipasi tinggi dan perayaan khidmat, namun pelayanan sosial-karitatif di akar rumput masih terbatas cakupannya. Kekuatan Gereja di altar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kepedulian konkret yang merata bagi kelompok rentan dan marginal. Ini menjadi panggilan mendesak untuk pertobatan pastoral.

B. Modal Pastoral yang Ada

8. Modal terkuat Gereja Labuan Bajo adalah tradisi gotong royong, semangat kekeluargaan umat, dukungan tarekat, dan spiritualitas perjumpaan pelayan pastoral di tengah umat. Kerja sama erat antara imam, DPP/DKP, dan fungsionaris pastoral lainnya, serta komunitas religius dalam musyawarah bersama menumbuhkan tanggung jawab kolektif yang menjadi fondasi persekutuan sinergis.

9. Kehidupan iman dan liturgi menunjukkan vitalitas yang menggembirakan. KBG aktif dalam tugas liturgi, umat memiliki kesadaran tinggi meminta pelayanan Ekaristi, keterlibatan awam sebagai lektor dan akolit semakin nyata, dan penyelarasan teks ibadat di stasi memperkuat wajah Gereja kontekstual. Praktik baik seperti wa’e lu’u, “Gerakan Satu Liter Beras” (GELAS), bantuan sembako, solidaritas kedukaan, dan kerja bakti lintas agama menjadi tanda solidaritas komunal yang hidup.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More