
Antisipasi Risiko Krisis Air Abad 21
Oleh: Servas Pandur, (Founder/Director Institut Komodo, Jakarta)
Kelangkaan sumber daya air segar berisiko memicu konflik di berbagai zona dunia. “Many of the wars of this century were about oil, but wars of the next century will be about water,” begitu perkiraan VP Bank Dunia, Ismail Serageldin (Mary H. Cooper, 1995:1115). Kelangkaan air akhir-akhir ini, akibat iklim panas membatasi pertumbuhan pohonpohon di seluruh dunia akhir-akhir ini, khususnya di kutub utara dan zona-zona tinggi dari permukaan laut—suhu-suhu sangat dingin membatasi pertumbuhan pohon selama ini.
Begitu kesimpulan riset Flurin Babst et al. (2019) pada Science Advances, 16 Januari 2019. Laporan NASA (2019) menyebutkan bahwa zona timur Afrika dan zona Timur-Tengah mengalami kekeringan paling parah di Bumi. Akibatnya, tanaman mengalami stres di Somalia, Sudan, dan Yaman. NASA (2019) juga merilis perkiraan banjir, kekeringan, pasokan air, kualitas air, dan status air di Bumi, dengan memantau keberadaan air—sumber daya paling berharga–di Bumi.
Tahun 1984, John K. Cooley merilis hasil riset dan kajian berjudul : “The War Over Water” atau perang merebut air. Cooley (1984:3) menulis : “Indeed, long after oil runs out, water is likely to cause wars, cement peace, and make and break empires and alliances in the region, as it has for thousands of years.” Jadi, jauh sebelum era minyak di Timur Tengah,air memicu perang atau damai, bahkan meruntuhkan imperium kekaiseran atau kerajaan dan aliansi di wilayah Timur Tengah selama ribuan tahun.