Di Reo Kami Mencari Jalan Memulihkan Kedaulatan Berpikir

Oleh Febry Nagut, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo

REO bukan kota besar. Ia tumbuh perlahan di pesisir utara Manggarai, menghadap laut yang setiap hari datang dan pergi tanpa tergesa. Namun pada Januari ini, di ruang aula SMAS St. Gregorius Reo, saya merasakan kegelisahan yang tidak bisa begitu saja diseret arus. Kami-para guru-berkumpul bukan untuk mengatur jadwal atau mengejar target nilai, melainkan untuk membicarakan sesuatu yang terasa kian langka dalam dunia pendidikan: kemampuan manusia untuk berpikir dengan utuh.

Selama beberapa hari, sekolah kami berubah menjadi ruang hening yang penuh percakapan. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang dimulai sejak 13 Januari 2026 itu memasuki hari ketiga pada Kamis (15/1/2026). Tema yang kami pilih terdengar penuh harapan: Sinergi Literasi dan Teknologi Menciptakan Pembelajaran yang Humanis dan Adaptif. Namun di balik tema itu, ada kesadaran yang perlahan muncul di antara kami: ada sesuatu yang rapuh dalam pendidikan hari ini-kedalaman berpikir.

Sebagai guru, saya melihat langsung bagaimana murid-murid hidup di tengah banjir informasi. Segalanya tersedia cepat, instan, dan berlapis. Mereka tahu banyak hal, tetapi sering kali berhenti pada permukaan. Persoalan justru bermula ketika jawaban datang lebih cepat daripada pertanyaan, ketika ruang untuk ragu, bertanya, dan merenung semakin sempit.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More